Text
Bulan Madu Terpanjang
Sesaat setelah malam pertama berlangsung, istriku menangis karena tidak perawan lagi. Anehnya, aku malah berusaha menghibur hatinya. Aku masih ingat benar kalimat yang kuucapkan.rnIbarat daun, sampai di tanah pun akan kupungut. Jadi kau tak perlu risau dengan semua itu. Bukankah itu sebagian dari masa lalu?" O, betapa luhurnya hatiku saat itu.rnTapi istriku tak juga berhenti menangis.rn"Kenapa kau masih menangis?"rnAku khawatir , Rul...."rn"Khawatir apaan?"rn"Jangan-jangan suatu ketika kau akan cari perawan."rnSaat itu juga kutanamkan kepercayaan padanya, bahwa aku tidak akan melakukan itu. Aku berniat menjunjung arti pernikahan."
Tidak tersedia versi lain